Sunday, December 16, 2012

PEDAGANG SUKSES YG SALAH SALURAN..



Dia pedagang sukses yang terkenal sholeh dan berjiwa sosial. Namanya Tuan Tajir. Tempat usaha dan tempat tinggalnya lebih dari satu. Usahanya adalah berdagang barang-barang antik mewah dan jual beli rumah. Di negerinya penduduk mengenalnya sebagai orang yang selalu menjaga sholat lima waktu berjamaah tepat waktu di masjid, berkawan dengan dengan orang-o
rang sholeh, ramah pada setiap orang, dan senang membantu baik saudara dekat, saudara jauh maupun orang lain yang bukan saudara.

Suatu hari, datanglah seorang ulama bernama Syeikh Mukhtar bersilaturahmi ke rumahnya. Setelah mengobrol membicarakan berbagai hal termasuk masalah keagamaan, Tuan Tajir meminta didoakan oleh Syeikh Mukhtar agar dirinya terhindar dari musibah seperti yang baru saja dialami rekan bisnisnya yang dirampok barang-barang dagangannya oleh kawanan penyamun di tengah perjalanan bisnisnya. Sebelum Syeikh Mukhtar berpamitan, Tuan Tajir tidak lupa memberikan sumbangan uang sebesar 5 dirham kepada Syeikh Mukhtar sebagai zakat dari pendapatannya hasil penjualan salah satu rumahnya yang baru saja laku 350 dinar.

Pada kesempatan silaturahmi tersebut, Syeikh Mukhtar mengungkapkan maksud dan tujuan kedatangannya. Beliau mengharapkan bantuan Tuan Tajir berkenan membeli satu-satunya rumah yang dimilikinya seharga 50 dinar. Syeikh Mukhtar mengatakan pada Tuan Tajir, uang hasil penjualan rumahnya akan digunakannya untuk membiayai anaknya melanjutkan pendidikan di sebuah madrasah di negeri seberang, mendukung usaha-usaha dakwahnya, dan modal untuk berbisnis agar dia bisa meningkatkan taraf kehidupannya yang memang masih kurang dari cukup.

Dengan halus dan hati-hati, Tuan Tajir sambil memohon maaf mengatakan tidak bisa membantu Syeikh Mukhtar dengan mengemukakan dua alasan, Pertama, dia tidak ada rencana untuk membeli rumah, dan kedua, dia berencana akan membantu saudara kandungnya bernama Tuan Tajir Muda untuk mengembangkan usahanya.

Beberapa bulan kemudian, penduduk negeri itu dikagetkan dengan berita Tuan Tajir menderita sakit yang cukup parah dan harus menjalani pengobatan di rumah sakit yang menelan biaya sebesar 50 dinar. Tak berapa lama setelah itu, penduduk kembali dikagetkan dengan berita Tuan Tajir Muda mengalami kecelakaan di jalan, terjatuh dari unta yang dikendarainya dan harus menjalani perawatan di rumah sakit. Beberapa bulan kemudian, Tuan Tajir mengalami musibah lagi, Beberapa barang dagangannya di salah satu tempat usahanya raib. Kerugian ditaksir sekitar 50 dinar. Tuan Tajir tidak tahu bagamaina bisa raib. Kemungkinan besar pelakunya adalah pegawainya sendiri.

Kisah di atas adalah kisah nyata dengan sedikit perubahan, yakni pada setting waktu, tempat dan nama-nama orang. Kisah-kisah serupa yang menceritakan dan membuktikan keajaiban sedekah kini mudah didapat dari siaran TV, buku-buku dan majalah-majalah.

Apalagi dari internet, akan sangat mudah didapat kisah-kisah sejenis yang sangat banyak ragam dan jumlahnya. Namun ternyata kemudahan-kemudahan itu tidak mudah membuat setiap diri Muslim tergerak hati menjadikan sedekah sebagai gaya dan pola hidupnya.

Masih banyak ditemui atau bahkan diri kita sendiri yang merasa mampu ketika memenuhi segala kebutuhan dan keinginan termasuk untuk hal-hal dan barang-barang yang bukan primer, tapi tiba-tiba merasa miskin ketika ingin bersedekah atau ketika datang seseorang yang memohon bantuannya untuk keperluan orang tersebut, orang lain, lembaganya, atau keperluan dakwah. Sehingga tidak sepersen pun yang keluar dari sakunya, atau jika memberikan bantuan nilai nominalnya kecil.

Contohnya, hampir setiap orang kini mempunyai handphone. Ketika membeli handphone meskipun harganya mencapai ratusan ribu hingga jutaan, bisa dipastikan hampir setiap orang kini mampu membelinya. Juga untuk keperluan membeli pulsa. Pasti ada saja uang untuk membeli pulsa setiap kali habis. Tapi ketika datang seseorang dari sebuah lembaga sosial memohon bantuan infak atau sedekah untuk keperluan anak yatim, tidak setiap orang yang mempunyai handphone dan selalu beli pulsa memberikan sumbangan. Jika memberi, nilai nominalnya kecil, jauh di bawah harga handphone bahkan masih di bawah jumlah pulsa selama satu bulan sekalipun.

Gaya hidup seperti di atas menurut Islam jelas salah. Sesungguhnya bersedekah itu kebutuhan setiap orang. Orang yang bersedekah lah yang membutuhkan orang yang disedekahi. Mengapa demikian? Karena setiap orang ingin hidupnya di dunia barokah, jika sakit ingin sembuh dari sakit, terhindar dari musibah, di alam barzah mendapatkan kiriman pahala terus menerus, dan kelak di akhirat selamat dari api neraka dan mempunyai timbangan amal sholeh yang berat.

Sesungguhnya uang seseorang yang dikeluarkan untuk keperluan sosial dan perjuangan agama adalah yang benar-benar miliknya. Sedangkan uang yang disimpannya atau yang dikeluarkannya untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya bukanlah miliknya. Mengapa? Karena yang pertama manfaatnya akan dirasakan hingga setelah mati, menyelamatkan dirinya dari api neraka dan memperberat timbangan amal sholehnya di Hari Kemudian. Sedangkan yang kedua, manfaatnya hanya dirasakan ketika hidup di dunia, kecuali jika hal-hal atau barang-barang yang dibelinya digunakan untuk beribadah apalagi untuk berdakwah, manfaatnya akan dirasakan di alam barzah dan di alam akhirat.

Bentengilah diri kalian dari siksa api neraka meskipun dengan separuh buah kurma (Muttafaqun alaih)

Dari Uqbah bin Harits r.a., ia berkata, Saya pernah shalat Ashar di belakang Nabi saw., di Madinah Munawwarah. Setelah salam, beliau berdiri dan berjalan dengan cepat melewati bahu orang-orang, kemudian beliau masuk ke rumah salah seorang istri beliau, sehingga orang-orang terkejut melihat perilaku beliau saw. Ketika Rasulullah saw. keluar, beliau merasakan bahwa orang-orang merasa heran atas perilakunya, lalu beliau bersabda, Aku teringat sekeping emas yang tertinggal di rumahku. Aku tidak suka kalau ajalku tiba nanti, emas tersebut masih ada padaku sehingga menjadi penghalang bagiku ketika aku ditanya pada hari Hisab nanti. Oleh karena itu, aku memerintahkan agar emas itu segera dibagi-bagikan (HR. Bukhari)

Sehingga dapat disimpulkan, Tuan Tajir yang paling tidak mempunyai harta 350 dinar dari hasil penjualan rumahnya semestinya membantu Syeikh Mukhtar dengan membeli rumahnya. Lebih baik lagi jika Tuan Tajir memberikan 50 dinar cuma-cuma tanpa mendapakan rumah tersebut. Dengan demikian selain terhindar dari musibah-musibah, uang yang dikeluarkannya untuk membantu Syeikh Mukhtar benar-benar menjadi miliknya.

Dalam banyak hadits Rasulullah sering mengatakan membentengi diri kita dengan bersedekah agar terhindar dari musibah.

Sedekah dapat menolak 70 macam bencana, dan yang paling ringan adalah penyakit kusta dan sopak (vitiligo) (HR Thabrani)

Seandainya ada banyak Tuan Tajir di sebuah negeri yang mengeluarkan hartanya untuk mendukung perjuangan di jalan Allah, Allah Subhanahu Wataala tidak akan melenyapkan atau
memusnahkan penduduk negeri itu untuk diganti dengan kaum lain yang
lebih baik. Naudzu billahi min dzalik

(Al Quran)

Ingatlah, kamu ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan pada jalan Allah. Maka di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah orang-orang yang berkehendak; dan jika kamu berpaling niscaya Dia akan mengganti dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu ini (QS. Muhammad [47]:38)

Oleh: Abdullah al-Mustofa. Penulis peneliti ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia) Kuala Lumpur Malaysia
 
Dipetik daripada Yusof Mansur Network .

Thursday, November 29, 2012

HEBATNYA SHALAWAT DENGAN CINTA



Rasulullah adalah habibullah (Hamba yang sangat dicintai Allah). Kita pun mencintainya dengan sepenuh jiwa. Bahkan keimanan kita mewajibkan untuk lebih mengutamakan kecintaan kepada beliau daripada kecintaan kepada anak, orang tua, diri sendiri, dan manusia seluruhnya. Para sahabat Ridhwanullah 'Alaihim telah menunjukkan kecintaan kepada beliau yang tak
ada tandingnya. Apapun kan dikobrankan demi melindungi diri beliau. Segalanya kan diberikan untuk menebus diri beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Hewan, tumbuhan, batu, dan gunung tak mau ketinggalan; mereka telah menunjukkan kecintaan dan penghormatan kepada beliau yang sangat sepanjang zaman

Mentaati beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam. Ini merupakan tanda paling utama yang menunjukkan benarnya kecintaan kepada beliau. Allah Ta'ala berfirman,

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

"Barang siapa yang menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka." (QS. Al-Nisa': 80)

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman tentang kewajiban mentaati beliau,

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS. Ali Imran: 31)

Al-Imad Ibnul Katsir berkata dalam tafsirnya, "Ayat yang mulia ini menghakimi atas setiap orang yang mengaku cinta kepada Allah sedangkan ia tidak berada di atas jalan hidup Nabi Muhammad, bahwa ia berdusta dalam pengakuannya pada saat itu juga. Sehingga ia mengikuti syariat Nabi Muhammad dan dien Nawabi (Islam yang beliau bawa) dalam semua perkataan dan perbuataannya

Satu, Cinta kepada Allah tidak cukup hanya pengakuan. Tapi harus disertai pembuktian. Dan tanda bukti nyatanya adalah mengikuti utusan-Nya Shallallahu 'Alaihi Wasallam dalam semua keadaanya; baik dalam perkataan dan perbuatannya, dalam pokok agama dan cabangnya, dalam zahir dan batinnya. Maka siapa yang mengikuti Rasul itu menunjukkan benarnya pengakuannya. Dan siapa yang tidak mengikuti Rasul, ia tidak cinta kepada Allah Ta'ala. Karena kecintaan kepada Allah mengharuskan untuk mengikuti utusan-Nya. Jika hal itu tidak ditemukan pada seseorang, menunjukkan tidak adanya kecintaan kepada Allah, ia dusta dalam pengakuannya.

Kedua, cemburu atas beliau dan ajarannya. Marah jika kehormatan beliau dan agama yang beliau bawa direndahkan. Kecemburuan ini menuntut realisasi nyata, tidak cukup hanya dengan perkataan semata. Misalnya, membuat bantahan terhadap syubuhat buruk yang dialamatkan kepada beliau dan sunnahnya, melakukan tuntutan dan perlawanan kepada mereka yang sengaja melecehkan beliau baik yang melalui lukisan karikatur, pembuatan film, dan semisalnya.

Ketiga, mengagungkan dan memuliakan pribadi beliau dan tidak meremahkan sunnahnya. Karena ada sebagian manusia yang mengklaim cinta Nabi, tapi ia mengejek orang yang menghidupkan sunnahnya seperti memanjangkan jenggot, tidak isbal dalam berpakaian, bersiwak, dan lainnya. Selayaknya orang yang cinta kepada beliau ia semangat menghidupkan sunnahnya. Sebuah keharusan, memuliakan beliau sekaligus sunnahnya. Dan di antaranya bentuk pemuliaan, tidak memanggil beliau dengan namanya semata tetapi dengan menisbatkan kepada nubuwah dan risalah serta menyertakan shalat dan salam atasnya.

Keempat, memperbanyak bacaan shalawat kepada beliau. Karena siapa yang mencintai seseorang pastinya ia sering menyebut namanya. Maka siapa yang cinta kepada beliau ia sering membacakan shalawat dan salam kepadanya. Sesungguhnya bershalawat kepada beliau mengandung keberkahan, doa, pengagungan, dan pemuliaan.

Kelima, sering mengingat beliau, rindu dan berharap perjumpaan dengan beliau di surga. Terdapat dalam satu hadits, "Di antara umatku yang sangat mencintaikku adalah mereka yang hadir sesudahku, salah seorang mereka menginginkan kalau saja bisa melihatku dengan membawa keluarha dan hartanya." (HR. Muslim)

Adalah Bilal, saat berada di pembaringan kematiannya mengatakan: "Besok aku akan berjumpa dengan para kekasih tercinta, Muhammad dan para sahabatnya."

Keenam, mencintai apa yang beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam cintai dari jenis manusia, makanan, minuman, perkataan, tempat, waktu, dan selainnya. Inilah kecintaan yang sempurna. Karenanya kita mencintai keluarga beliau secara keseluruhan dan para sahabatnya yang mulia.

Ketujuh, berkahlak dengan akhlak yang dimilikinya dan meniti jalan hidup yang telah ditempuhnya. Karena dalam perjalanan hidupnya terdapat keteladanan yang mulia.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al-Ahzab: 21)

Sesungguhnya beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam adalah Al-Qur'an yang berjalan di tengah-tengah manusia. Semua perkataan dan perbuatannya adalah terjemahan aplikatif dari kitab suci yang mulia. Karenanya, selayaknya kita meniru akhlak Nabi, mengikuti jalan hidup dan petunjukkan dalam makan, minum, tidur, bermu'amalah, dan dalam segala hal. Semua ini merupakan bentuk kecintaan kepada beliau yang sesungguhnya. Wallahu Ta'ala A'lam.

Wednesday, November 21, 2012

UNTUK APA UMURMU DIHABISKAN ?

 
Baru saja kita berpisah dengan Tahun 1433 Hijriyah. Bahkan sekarang sudah berlalu beberapa hari dari tahun yang baru, 1434 Hijriyah. Semua hari-hari pada tahun yang telah lalu sudah ada catatannya dan kelak kita akan ditanya tentangnya. Sedangkan hari-hari yang akan datang -dari tahun yang baru- kita tidak tahu apakah bisa melampuinya. Maka manfaatkan hari yang kita ada padanya. Jangan disia-siakan. Karena kepergiannya tidak akan pernah kembali. Sementara catatan amal pada hari tersebut tersimpan baik dalam catatan yang tak akan lapuk.

Ibnu Mas'ud radliyallah 'anhu berkata, "Sesuatu yang aku sesali adalah jika dari pagi hari sampai matahari tenggelam amalku tidak bertambah sedikitpun padahal aku tahu saat itu umurku berkurang."

Hari terdiri dari jam dan menit. Setiap orang haruslah memikirkan, untuk apa waktunya dihabiskan?

Islam sangat memperhatikan perputaran waktu dan pergantian hari, khususnya untuk beramal shalih. Islam sangat menganjurkan untuk memanfaatkan waktu dan tidak menyia-nyiakannya. Di akhirat manusia akan ditanya tentangnya.

Dari Abu Barzah al-Aslami Radhiyallahu 'Anhu berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda, "Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga ditanya empat perkara: tentang umurnya dihabiskan untuk apa, usia mudanya digunakan untuk apa, hartanya darimana didapatkan dan kemana ia peruntukkan, dan tentang ilmunya apa yang sudah ia amalkan." (HR. Al-Tirmidzi)

Memperhatikan waktu berarti tidak menyia-nyiakan kesempatan beramal, saat ia datang. Karena menunda-nunda kebaikan yang sudah ada di depan mata akan menyebabkan penyesalan di kemudian hari.
 
Dipetik daripada : FB Yusof Mansur Network 

KUNCI KEKAYAAN HIDUP


Banyak orang kaya yang merasa seolah-olah menguasai harta, padahal dialah yang dikuasai harta. Orang yang menjadikan harta sebagai tujuan dan melakukan segala cara untuk mendapatkannya adalah orang yang telah diperbudak oleh harta dan kesenangan dunia. Rasa berkecukupanlah yang membuat orang bisa berdaya memberi dan berbagi. Sebaliknya, seseorang yang secara mater
i kaya, tet
api mentalnya masih berkekurangan dan tamak, tak akan mampu mengeluarkan hartanya di jalan Allah Ta’ala. Ia malah ingin menyimpan sebanyak-banyaknya lagi. Mengambil dan mengambil. Orang demikian telah diperalat oleh hartanya. Seorang yang bertauhid, hanya menjadi hamba Allah Ta’ala, bukan hamba selain-Nya. Ia hanya rela dikuasai oleh Allah Ta’ala, bukan selain-Nya.

Orang seperti Abdurrahman bin Auf mampu memberikan hartanya sampai sekian banyak bukan karena ia kaya raya, tetapi karena ia mampu menguasai hartanya Dia pernah menyedekahkan 700 ekor unta beserta muatannya berupa kebutuhan pokok dan barang perniagaan kepada kaum Muslim. Ia juga pernah membeli tanah senilai 40 ribu dinar atau setara Rp 55 miliar untuk dibagi-bagikan kepada para istri Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan fakir miskin. Ia juga pernah menginvestasikan tak kurang 500 ekor kuda perang dan 1.500 ekor unta untuk jihad fi sabilillah.

Ketika wafat ia pun masih sempat mewasiatkan 50 ribu dinar untuk diberikan kepada veteran perang Badar. Masing-masing pahlawan mendapat jatah 400 dinar atau setara Rp 560 juta.

Tidak semestinya kelebihan harta menghalangi kita untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan tidak halal jelas hanya akan mempersulit perjalanan menuju Allah Ta’ala. Harta yang dicari dengan jalan halal tetapi belum digunakan di jalan Allah, juga masih belum bernilai di sisi-Nya.
Harta yang telah disedekahkan di jalan Allah Ta’ala, itulah investasi abadi yang akan dilipatgandakan balasannya oleh Allah Ta’ala. Sementara harta yang tersimpan, saat maut menjemput, pasti akan kita tinggalkan di dunia ini. Hanya amal yang akan menyertai kita menghadap Allah Ta’ala kelak.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam berdabda, ”Ada tiga perkara yang mengikuti mayit sesudah wafatnya, yaitu keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua kembali dan yang satu tinggal bersamanya. Yang pulang kembali adalah keluarga dan hartanya, sedangkan yang tinggal bersamanya adalah amalnya.” (HR Bukhari dan Muslim).
 
Dipetik daripada : FB Yusof Mansur Network