Saturday, June 24, 2017

SELAMAT HARI RAYA..

Bismillahirrahmanirrahim.

🌼KELUARGA NABI SAW DI HARI RAYA🌼

PADA saat malam Takbiran, Ali ibn Abi Thalib terlihat sibuk membagi-bagikan gandum dan kurma. Bersama istrinya, Sayyidah Fathimah az-Zahra, Ali menyiapkan tiga karung gandum dan dua karung kurma. Terihat, Sayyidina Ali memanggul gandum, sementara istrinya Fathimah menuntun Hasan dan Husein. Mereka sekeluarga mendatangi kaum fakir miskin untuk disantuni.

Esok harinya tiba salat ‘Idul Fitri. Mereka sekeluarga khusyuk mengikuti salat jama’ah dan mendengarkan khutbah. Selepas khutbah ‘Id selesai, keluarga Rasulullah Saw. itu pulang ke rumah dengan wajah berseri-seri.

Sahabat beliau, Ibnu Rafi’i bermaksud untuk mengucapkan selamat ‘Idul Fitri kepada keluarga putri Rasulullah Saw. Sampai di depan pintu rumah, alangkah tercengang Ibnu Rafi’i melihat apa yang dimakan oleh keluarga Rasulullah itu.

Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah, Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein yang masih balita, dalam ‘Idul Fitri makanannya adalah gandum tanpa mentega, gandum basi yang baunya tercium oleh sahabat Nabi itu. Seketika Ibnu Rafi’i berucap istighfar, sambil mengusap-usap dadanya seolah ada yang nyeri di sana. Mata Ibnu Rafi’i berlinang butiran bening, perlahan butiran itu menetes di pipinya.

Kecamuk dalam dada Ibnu Rafi’i sangat kuat, setengah lari ia pun bergegas menghadap Rasulullah Saw. Tiba di depan Rasulullah, “Ya Rasulullah, ya Rasulullah, ya Rasulullah. Putra baginda, putri baginda dan cucu baginda,” ujar Ibnu Rafi’i. “Ada apa wahai sahabatku?” tanya Rasulullah.

“Tengoklah ke rumah putri baginda, ya Rasulullah. Tengoklah cucu baginda Hasan dan Husein.”

“Kenapa keluargaku?”

“Tengoklah sendiri oleh baginda, saya tidak kuasa mengatakan semuanya.”

Rasulullah Saw. pun bergegas menuju rumah Sayyidatuna Fathimah az-Zahra r.a. Tiba di teras rumah, tawa bahagia mengisi percakapan antara Sayyidina Ali, Sayyidatuna Fathimah dan kedua anaknya. Mata Rasulullah pun berlinang. Butiran mutiara bening menghiasi wajah Rasulullah Saw. nan suci.

Air mata Rasulullah berderai, melihat kebersahajaan putri beliau bersama keluarganya. Di hari yang Fitri, di saat semua orang berbahagia, di saat semua orang makan yang enak-enak. Keluarga Rasulullah Saw. penuh tawa bahagia dengan gandum yang baunya tercium tak sedap, dengan makanan yang sudah basi.

“Ya Allah, Allahumma Isyhad. Ya Allah saksikanlah, saksikanlah. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku makanannya adalah gandum yang basi. Di hari ‘Idul Fitri keluargaku berbahagia dengan makanan yang basi. Mereka membela kaum papa, ya Allah. Mereka mencintai kaum fuqara dan masakin. Mereka relakan lidah dan perutnya mengecap makanan basi asalkan kaum fakir-miskin bisa memakan makanan yang lezat. Allahumma Isyhad, saksikanlah ya Allah, saksikanlah,” bibir Rasulullah berbisik lembut.

Sayyidatuna Fathimah tersadar kalau di luar pintu rumah, bapaknya sedang berdiri tegak. “Ya Abah, ada apa gerangan Abah menangis?” Rasulullah tak tahan mendengar pertanyaan itu. Setengah berlari ia memeluk putri kesayangannya sambil berujar, “Surga untukmu, Nak. Surga untukmu.”

Demikianlah, menurut Ibnu Rafi’i, keluarga Rasulullah Saw. pada hari ‘Idul Fitri senantiasa menyantap makanan yang basi berbau apek. Ibnu Rafi’i berkata, “Aku diperintahkan oleh Rasulullah Saw. agar tidak menceritakan tradisi keluarganya setiap ‘Idul Fitri. Aku pun simpan kisah itu dalam hatiku. Namun, selepas Rasulullah Saw. wafat, aku takut dituduh menyembunyikan hadits, maka aku ceritkan agar jadi pelajaran bagi segenap kaum Muslimin.” (Musnad Imam Ahmad, jilid 2, hlm. 232).

Ya Rasulullah, begitu mulianya hati baginda bersama keluarga. Siapa gerangan yang tak malu? Siapa orangnya yang tak kelu? Kami di hari nan fitri, makanan kami lezat-lezat, makanan kami enak-enak. Harus kami apakan diri ini, ya Rasul? Kami malu.

Ya Rasulllah, teteskan kemuliaan jiwa baginda kepada kami, teteskan walau hanya setitik, agar jiwa kami semua tiada tandus dari kasih. Aamiin...

Tuesday, June 20, 2017

JANGAN BANGA

Jangan berbangga dgn solat, puasa dan zikir yg banyak kerana semua itu belum tentu membuatkan Allah reda.

Justeru, apa yg membuatkan Allah reda?

Nabi Musa AS, "Wahai Allah, aku telah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yg membuatkan Engkau reda?"

Allah SWT, "Solat? Solatmu itu utk dirimu sendiri, kerana dgn mengerjakan solat, engkau terpelihara drp perbuatan keji dan munkar."

"Zikir? Zikirmu itu hanya utk dirumu sendiri, membuatkan hatimu menjadi tenang."

"Puasa? Puasamu itu utk dirimu sendiri, melatih dirimu utk memerangi hawa nafsumu sendiri."

Nabi Musa AS, "Lalu ibadahku yg manakah yg membuatkan Engkau reda ya Allah?"

Allah SWT, *"Sedekah, infaq, zakat dan perbuatan baikmu. Itulah yg membuatkan Aku reda, kerana ketika engkau membahagiakan orang yg sedang susah, Aku hadir di sampingnya. Dan Aku akan menggantikannya dgn ganjaran 700 kali ganda."* Surah Al-Baqarah ayat 261 hingga 262.

Apabila kamu sibuk dgn ibadah yg lazim dan berbangga dgnnya, maka itu tandanya kamu hanya mencintai dirimu sendiri, bukannya Allah.

Tetapi, apabila kamu berbuat baik dan berkorban utk orang lain, maka itu tandanya kau mencintai Allah dan tentu Allah reda kerananya.

Buatlah perkara yg Allah reda maka Allah akan limpahkan rahmat-Nya dgn membuatkan hidupmu lapang dan bahagia.

Kitab *Mukasyafatul Qulub*, karya *Imam Al-Ghazali*.

Monday, June 19, 2017

KISAH DOA LAILATUL QADAT

Bismillahirrahmanirrahim.

Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin hafizhahumallah bercerita :

"Pada suatu malam ke 27 Ramadhan (malam yang sangat diharapkan terjadinya lailatul qadar), beliau bersama Bapak serta Kakek ingin pergi ke masjid Nabawi untuk shalat malam pada malam itu.

Kemudian ketika keluar rumah menuju mobil, beliau mendengar suara musik yang begitu keras dinyalakan oleh anak-anak muda, kemudian beliau mendekati mobil tersebut dan mengatakan kepada mereka :

"Wahai para pemuda, jika kalian tidka sanggup untuk mengisi malam ini dengan ibadah, maka mohon dimatikan suara yang begitu keras ini", akhirnya mereka mematikannya.

Kemudian syaikh mengatakan: "Hendaknya malam ini kalian memperbanyak mengucapkan

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka 'Afuwwun tuhibul 'afwa fa'fu 'anni

(Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka pemaafan, maka maafkanlah daku).

Lalu seorang yang dekat syaikh mengatakan, "saya belum hafal", lalu syaikh mengulangi kedua kalinya, lalu si pemuda ini akhirnya dapat melafalkannya.

Setelah enam tahun, Syaikh Abdurrazzaq hafizhahullah ceramah di sebuah kota, kemudian setelah ceramah ada seorang pemuda yang berjenggot dan dari wajahnya terlihat ia ahli ketaatan kepada Allah, pemuda ini berkata :

"Syaikh ingatkah engkau kepada para pemuda yang engkau peringatkan untuk mematikan musik di malam ke 27 Ramadhan, lalu engkau mengajari mereka doa lailatul qadar, maka semenjak malam itu saya selalu membacanya dan akhirnya Allah Taala membencikan maksiat-maksiat di dalam hatiku, Alhamdulillah akhirnya aku kembali ke jalan-Nya"

Wahai Saudaraku, sebarkanlah DOA ini! di hari-hari mulia ini, semoga yang membacanya akan melihat kebaikan BAIK DI DALAM RAMADHAN ATAU DI LUAR RAMADHAN :

اللهم إنك عفو تحب العفو فاعف عني

Allahumma innaka 'Afuwwun tuhibul 'afwa fa'fu 'anni

(Ya Allah sungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau suka dengan pemaafan, maka maafkanlah daku).

Ditulis oleh Ahmad Zainuddin Al Banjary

Banjarmasin, Senin 24 Ramadhan 1438H.

Sunday, June 18, 2017

MALAM AL QADAR


Ustaz Pahrol Mohamad Juoi

Sayangnya, kita lebih terfokus melihat tanda-tanda mendapat Al Qadar pada alam, pada pokok, air dan lain-lain yang berada di luar diri.

Sedangkan tanda mendapat Al Qadar itu ada pada diri sendiri.

Bukankah mereka yang bertemu dengan malam Al Qadar amat bertuah kerana doa, taubat dan hajatnya “diangkat” oleh para malaikat lalu dimakbulkan Allah?

Jadi, jika seseorang mendapat Al Qadar tentu jiwanya lebih tenang, akhlaknya menjadi lebih baik dan ibadahnya (sama ada habluminallah dan habluminannas) bertambah lebat dan hebat.

Malam Al Qadar ialah malam yang paling sibuk laluan ke langit dunia (umpama trafik jam) kerana turunnya pelbagai malaikat yang tidak kira banyaknya. Meriah sungguh sampai terbit fajar.

Malaikat turun secara luar biasa banyaknya itu termasuklah yang paling tinggi pangkatnya di kalangan mereka – malaikat Jibrail.

Masing-masing ada tugasnya. Pelbagai urusan dilaksanakan oleh mereka.

Salah satu urusan ialah “bertamu dalam hati” orang Islam yang bersih hatinya. Sekali bertamu tetapi kesannya berpanjangan. Impaknya, hati orang yang pernah menjadi tempat singgah malaikat akan berubah.

Bisikan para malaikat mula mengambil tempat yang khusus dan menjadi begitu dominan dalam kehidupan seseorang itu.

Mulai detik itu bisikan kebaikan (dari malaikat) akan mengatasi bisikan kejahatan (dari syaitan) dalam hati orang tersebut.

Ya, hidup ini sebenarnya kita lalui antara dua bisikan. Pertama, bisikan “hati kecil” yang suci dan baik. Kedua, bisikan “hati besar” yang kotor dan jahat.

Bisikan ini sentiasa berperang dalam hati. Justeru, hati hakikatnya adalah wadah rebutan antara malaikat dan syaitan. Antara ilham dan waswas.

Siapa yang menang, dialah yang akan menakluki hati dan terarahlah hati itu ke arah yang dikehendaki oleh “penakluknya”.

Firman Allah:“Dan beruntunglah orang yang membersihkan dan merugilah orang yang mengotorinya.” (Surah al-Syams 91: 9-10)

Orang yang mendapat malam Al Qadar sungguh bertuah. Hasil mujahadah, doa, taubatnya pada malam berkenaan, malaikat terus bertamu dan mendominasi hatinya.

Sejak malam itu suara hati kecilnya akan sentiasa mengatasi hati besarnya.

Mujahadahnya akan terbantu.

Perjalanannya menuju Allah akan lebih terpimpin dan terjamin.

Hatinya menjadi pusat kesucian dan kebaikan… maka lahirlah yang baik-baik sahaja pada tindakan dan percakapan.

Mahmudahnya menenggelamkan mazmumah.

Itulah hati orang yang telah mendapat malam Al Qadar.

Orang lain mungkin tidak perasan pada awalnya. Ia hanya dapat dirasai oleh orang yang mengalaminya.

Rasa tenang, bahagia, lapang dan sejuk.

Kemudian sedikit demi sedikit orang lain mula ketara… Ah, dia sudah berubah. Ah, indahnya perilakunya.

Subhanallah, dia telah berubah. Apa yang ada dalam hatinya mula terserlah.

Dan itulah tanda-tanda malam Al Qadar tahun itu yang paling ketara dan terasa, bukan pada alam dan jagat raya tetapi pada diri manusia makhluk yang sempurna.

Semoga malam-malam berbaki ini, kita akan menambah pecutan amal. Tidak kiralah sama ada Al Qadar telah berlalu atau masih menanti detik untuk bertamu.

Kita tidak akan menunggu tetapi kita akan memburu.

Kita akan terus memburu sekalipun malam ganjil telah tamat dan Ramadhan sudah berakhir.

Sampai bila? Sampai bila-bila. Kerana bagi mukmin yang cintakan Allah, seolah-olah setiap malam adalah ‘malam Al Qadar’.

Al Qadar boleh datang, boleh pergi… tetapi Penciptanya sentiasa ada… sampai bila-bila. Semoga kita mati, setelah bertemu malam Al Qadar ini  atau dalam perjalanan menuju malam Al Qadar nanti…

Persediaan menemuinya bukan dibuat  semalaman, seharian, mingguan atau bulanan.

Tetapi seluruh hayat kita adalah persediaan untuk “menemuinya”. Mengapa?

Kerana perjuangan membersihkan hati adalah perjuangan sepanjang hayat.

Qalbun Salim (hati sejahtera) itu adalah cita-cita abadi kita!

Ya Allah, untuk mengatakan cinta, aku takut berdusta. Untuk mengatakan tidak, aku takut derhaka. Aku hanya insan hina, yang sedang jatuh bangun di jalan berliku menuju-Mu. Bantulah aku... kasihanilah aku Ya Allah.... 😭😭